ROKAN HILIR (CR) - Rencana besar pembangunan Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Tujuh tahun setelah pemancangan tiang pertama dilakukan, kelanjutan pembangunan masjid yang digadang-gadang menjadi ikon wisata religi tersebut belum juga menunjukkan perkembangan berarti.
Masjid di kawasan Pujasera Bagansiapiapi itu mulai dibangun dengan ditandai pemancangan tiang pada Rabu, 19 Juni 2019 lalu. Saat itu, pembangunan Masjid Cheng Ho diharapkan menjadi salah satu proyek monumental yang memperkuat identitas Kabupaten Rokan Hilir, sekaligus menghadirkan destinasi wisata religi baru di Provinsi Riau.
Pemancangan perdana tersebut dilakukan oleh Syamsuar yang kala itu menjabat Gubernur Riau. Dalam kesempatan tersebut, Syamsuar menyampaikan bahwa apabila Masjid Cheng Ho di Bagansiapiapi dapat diwujudkan, keberadaannya berpotensi menjadi ikon Riau sekaligus destinasi wisata religi. Namun, harapan besar itu hingga kini masih belum menemukan titik terang.
Proyek yang sejak awal membawa konsep arsitektur dan budaya yang cukup unik itu seolah masih menunggu kepastian untuk kembali dilanjutkan ke tahap pembangunan yang lebih serius.
Padahal, konsep yang dirancang bukan sekadar pembangunan rumah ibadah. Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho direncanakan mengusung perpaduan unsur budaya Tionghoa dan Melayu. Bangunan tersebut berdiri di atas lahan sekitar dua hektare dengan konstruksi dua lantai.
Lebih menarik lagi, desainnya direncanakan memiliki seribu kubah sebagai simbol Rokan Hilir yang selama ini dikenal dengan julukan 'Negeri Seribu Kubah'.
Tidak hanya itu, kawasan Masjid Cheng Ho juga diproyeksikan menjadi kompleks religi dan budaya yang terintegrasi.
Di dalam kawasan tersebut direncanakan terdapat miniatur Bakar Tongkang sebagai representasi salah satu tradisi budaya paling dikenal dari Bagansiapiapi. Selain itu, terdapat pula rencana pembangunan pusat kajian Al-Qur'an, Islamic Center, gedung Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), taman bermain, gedung pertemuan hingga dua menara.
"Menara masjid tersebut direncanakan memiliki ketinggian sekitar 25 meter dengan 17 tingkat," jelas Ketua Yayasan Fastabiqul Khairat Rohil, Surya Arfan kala itu.
Jika seluruh konsep itu terealisasi, Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang perjumpaan budaya, pendidikan keagamaan dan destinasi wisata religi di Bagansiapiapi.
Konsep tersebut sekaligus memiliki nilai strategis bagi Rokan Hilir. Perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa yang dituangkan dalam arsitektur masjid dapat menjadi simbol keberagaman sekaligus memperkuat karakter Bagansiapiapi sebagai daerah yang memiliki sejarah dan kekayaan budaya yang kuat.
Namun, setelah bertahun-tahun sejak pemancangan tiang pertama, masyarakat masih menunggu kepastian kapan pembangunan tersebut benar-benar dilanjutkan.
Harapan warga bukan semata-mata melihat sebuah bangunan berdiri. Lebih dari itu, masyarakat ingin mengetahui kejelasan masa depan proyek yang sejak awal telah diperkenalkan sebagai salah satu calon ikon religi dan budaya di Bagansiapiapi.
"Apakah pembangunan akan dilanjutkan? Jika dilanjutkan, kapan? Dan seperti apa skema serta tahapan pembangunan berikutnya?," tanya warga Bagansiapiapi, Arif, Rabu (7/10/2026).
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar proyek yang telah dimulai sejak 2019 tidak kehilangan arah dan kepastian.
Sebab, semakin lama pembangunan tertunda, semakin besar pula pertanyaan masyarakat terhadap masa depan proyek tersebut.
"Masyarakat berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait memberikan kejelasan mengenai masa depan pembangunan Masjid Cheng Ho, termasuk langkah konkret untuk melanjutkan proyek tersebut," harapnya.
Tujuh tahun telah berlalu, masyarakat pun menanti apakah Masjid Cheng Ho akan kembali bergerak dari sebuah rencana menjadi kenyataan. (CR**)