PADANG (CR) - Lelaki tua itu duduk tenang di sebuah sudut Kota Padang, Sumatera Barat. Tatapannya masih tajam, seolah berusaha menembus kembali lorong waktu yang telah dilaluinya lebih dari satu abad.
Namanya Nawi. Ia lahir pada 12 Mei 1923 dan kini berusia 103 tahun.
Di balik tubuh renta dan rambut yang memutih, tersimpan pengalaman panjang tentang masa perjuangan, pendudukan Jepang, hingga pergolakan bersenjata setelah Indonesia merdeka.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Nawi menjadi salah satu saksi hidup perjalanan panjang bangsa ini.
Ia mengalami masa ketika Indonesia belum sepenuhnya dikenal sebagai negara merdeka dan ketika perjuangan masih dilakukan dengan senjata seadanya.
Bagi Nawi, kemerdekaan tak hanya berarti upacara, bendera, atau perayaan. Kemerdekaan adalah sesuatu yang dahulu diperjuangkan dengan risiko kehilangan nyawa.
Memimpin Ratusan Pemuda
Nawi masih berusia belasan tahun ketika mulai terlibat dalam perjuangan.
Saat itu, wilayah Padang dikenal dengan pembagian Padang Dalam Kota dan Padang Luar Kota di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Langkahnya kemudian membawa Nawi menyusuri sejumlah wilayah yang menjadi jalur perjuangan.
Di antaranya Banda Bakali, Lubuk Alung, Rimbo Kaluang, Andaleh, hingga Seberang Padang.
Dalam perjuangan tersebut, Nawi dipercaya memimpin sekitar 300 pemuda.
Ia menjadi Komandan Regu Pasukan Hizbullah wilayah Kapalo Koto.
Pasukannya bergerak dalam perjuangan yang berlangsung beriringan dengan kelompok-kelompok perlawanan lainnya, termasuk kelompok yang dikenal sebagai Harimau Kuranji.
Persenjataan yang dimiliki para pemuda ketika itu jauh dari memadai. Bambu runcing menjadi salah satu senjata yang mereka andalkan untuk menghadapi musuh.
"Senjata kami waktu itu talang baranjuang, bambu runcing," kata Nawi mengenang masa perjuangannya, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, tekad para pemuda saat itu sederhana, yakni mengusir Belanda dari Indonesia. Perjuangan itu dijalani bertahun-tahun dengan keterbatasan persenjataan.
"Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami," ujarnya, sebagaimana dilansir KOMPAS.com.
Jika memperoleh senjata seperti senapan bren atau granat, senjata itu biasanya didapat setelah direbut dari pihak musuh dalam pertempuran.
Perjuangan bagi Nawi dan kawan-kawannya bukan tentang kelengkapan persenjataan. Mereka mengandalkan keberanian dan keyakinan untuk mempertahankan wilayah dari kekuasaan penjajah.
Pendudukan Jepang dan Masa Paling Sulit
Setelah Belanda, datang pendudukan Jepang pada 1942.
Bagi Nawi, periode tersebut menjadi salah satu bagian paling sulit dalam perjalanan hidupnya. Bukan hanya perang, persoalan makanan juga menjadi bagian dari penderitaan masyarakat saat itu.
Tenaga rakyat dikerahkan untuk kepentingan pendudukan, sementara kebutuhan hidup semakin sulit diperoleh.
"Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit," tutur Nawi.
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memasuki periode mempertahankan kemerdekaan, perjuangan belum serta-merta berakhir.
Belanda kemudian kembali berusaha menguasai Indonesia. Pertempuran dan pergolakan berlangsung hingga akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia pada sekitar 1950.
Namun, bagi Nawi, masa bersenjata ternyata belum selesai.
Peluru yang Tak Pernah Dikeluarkan
Pada akhir 1950-an, pergolakan daerah kembali terjadi. Dalam konflik pada 1957, tubuh Nawi terkena peluru. Timah panas itu menembus pahanya.
Anehnya, peluru tersebut hingga kini masih bersarang di dalam tubuhnya. Dokter pernah menyarankan agar peluru itu dikeluarkan melalui operasi.
Namun, Nawi menolak karena luka tersebut tidak lagi menimbulkan rasa sakit.
"Waktu itu, saya tertembak di paha. Dokter sudah menyarankan operasi," katanya.
"Saya tidak mau. Lagi pula tidak terasa sakit lagi," lanjut Nawi.
Peluru tersebut kemudian menjadi bagian dari tubuhnya sekaligus pengingat atas masa panjang pergolakan yang pernah dilaluinya.
Lebih dari enam dekade berlalu sejak peluru itu bersarang di pahanya.
Nawi tetap menjalani kehidupan dengan tenang.
Kehilangan Orang-orang Terkasih
Usia panjang juga membuat Nawi harus melewati banyak kehilangan. Dua orang istrinya telah meninggal dunia.
Dari delapan anak yang dimilikinya, lima di antaranya juga telah berpulang. Hanya tiga anak yang masih bersamanya.
Namun, kehilangan demi kehilangan tidak membuat Nawi kehilangan kehangatan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Di usia lebih dari satu abad, ia masih berusaha menjalani kehidupan dengan prinsip yang menurutnya sederhana.
Tidak menyakiti orang lain dan sebisa mungkin membantu sesama.
"Saya tidak ingin menyakiti orang lain. Saya selalu ingin membantu kawan," kata Nawi.
"Saya selalu menanamkan jiwa itu," lanjutnya.
Nawi merupakan veteran Golongan A dan pernah menerima tiga penghargaan Satyalancana pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Namun, penghargaan tersebut bukan sesuatu yang paling sering ia bicarakan. Ia lebih banyak mengingat perjalanan panjang yang telah dilaluinya bersama orang-orang seperjuangan.
Makna Perjuangan
Bagi Nawi, bentuk perjuangan telah berubah. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing, senjata hasil rampasan, dan mempertaruhkan nyawa, kini perjuangan tidak lagi harus dilakukan di medan perang.
Menurut dia, generasi setelahnya memiliki tugas untuk menjaga persatuan dan saling membantu.
Pandangan itu berakar pada nilai yang lama hidup dalam budaya Minangkabau.
"Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi."
Pepatah tersebut mengajarkan tentang kebersamaan, saling membantu, dan kesepakatan dalam kehidupan bersama.
Kini, bambu runcing telah menjadi bagian dari sejarah.
Dentuman senjata yang dahulu mengisi hari-hari Nawi juga telah lama berhenti.
Namun, ingatan tentang perjuangan itu masih melekat dalam dirinya. Pada usia 103 tahun, Nawi tidak lagi membawa senjata untuk mempertahankan kemerdekaan.
Ia hanya menyimpan cerita, termasuk sebuah peluru yang masih bersarang di pahanya.
Cerita itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir dalam keadaan mudah.
Ada masa muda, tenaga, kehilangan, dan keberanian yang pernah dipertaruhkan oleh generasi sebelumnya.
Bagi Nawi, tugas generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata. Perjuangan itu dapat diteruskan dengan menjaga persatuan dan tidak saling menyakiti.